Senin, 20 Juli 2020

Jenis-Jenis Makna

Menurut Abdul Chaer makna dibedakan berdasarkan:
a.       Ada tidaknya proses gramatikal
Berdasarkan ada tidaknya proses gramatikal makna kata dibedakan menjadi makna leksikal dan makna  gramatikal. Makna leksikal adalah makna yang bersifat leksikon, bersifat leksem, atau bersifat kata. Dapat diartikan juga sebagai makna yang sesuai dengan referennya, makna yang sesuai dengan hasil observasi alat indra, atau makna yang sungguh-sungguh nyata dalam kehidupan kita. Contoh: kata “sapi” memiliki makna “binatang pemamah biak, bertanduk, berkuku genap, berkaki empat, bertubuh besar, dipiara untuk diambil dagingnya dan susunya”.
Sedangkan makna kata gramatikal adalah makna kata yang hadir sebagai akibat adanya proses gramatikal seperti afiksasi, reduplikasi, dan komposisi. Contoh kata “membeli” dari proses gramatikal mem- + beli => membeli memiliki makna “memperoleh sesuatu melalui pertukaran (pembayaran) dengan uang”.
b.      Ada tidaknya referen
Berdasarkan ada tidaknya referen makna kata dibedakan menjadi makna referensial dan makna nonreferensial. Makna referensial adalah makna kata bila kata itu mempunyai referen atau sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu.
Contoh: piring, gelas, dan sendok adalah contoh makna referensial karena mempunyai referen atau acuan pada sebuah perabot dapur.
          Sedangkan makna nonreferensial merupakan makna kata yang tidak mempunyai referen. Yang termasuk kelas kata tugas seperti prepsisi, konjungsi, partikel termasuk kata yang bermakna nonreferensial. Contoh: tetapi, dan, di termasuk makna nonreferensial karena tidak memiliki acuan di luar bahasa.
c.       Ada tidaknya nilai rasa
Berdasarkan ada tidaknya nilai rasa pada sebuah kata makna kata dibedakan menjadi makna denotatif dan makna konotatif. Makna denotatif adalah makna kata yang belum mendapatkan tambahan nilai rasa. Contoh: kata “bini” di masyarakat melayu bermakna denotatif.
Sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang ditambahkan nilai rasa pada kata bermakna denotatif oleh orang atau sekelompok orang yang menggunakan kata itu. Contoh kata “bini” di masyarakat selain melayu bermakna konotatif, kata “gadis” pada masyarakat kalangan remaja bermakna konotatif daripada kata “perempuan”.
d.      Ada tidaknya hubungan (asosiasi) makna sebuah kata dengan makna kata lain
Berdasarkan ada tidaknya hubungan (asosiasi) makna sebuah kata dengan makna kata lain, makna kata dibedakan menjadi makna konseptual dan makna asosiatif. Makna konseptual adalah makna yang sesuai dengan konsepnya, makna yang bebas dari asosiasi atau hubungan apapun. Contoh kata “bunga melati” bermakna “salah satu jenis bunga yang memiliki ukuran kecil, berwarna putih, dan harum baunya”.
Sedangkan makna asosiatif adalah makna yang dimiliki oleh sebuah kata atau leksem berkenaan dengan adanya hubungan kata tersebut dengan sesuatu di luar bahasa. Makna asosiatif ini sesungguhnya sama dengan perlambangan yang digunakan oleh suatu masyarakat bahasa untuk menyatakan suatu konsep lain. Contoh “bunga melati” bermakna “kesucian”.
Menurut Abdul Chaer (2013: 73) dalam makna asosiatif terdapat makna stiliska, makna afektif, dan makna kolokatif. Makna stiliska berkenaan dengan gaya pemilihan kata sehubung dengan adanya perbedaan sosial dan bidang kegiatan di dalam masyarakat. Contoh kata “guru” dan “dosen”, kata “guru” digunaVan untuk menyebut orang yang mengajar di sekolah, sedangkan “dosen” digunakan untuk menyebut orang yang mengajar di perguruan tinggi.
Makna afektif berkenaan dengan perasaan pembicara pemakai bahasa secara pribadi, baik terhadap lawan bicara maupun terhadap objek yang dibicarakan. Contoh:
“Tutup mulut kalian!” bentaknya.
“Mohon diam sebentar!” pintanya.
            Makna kolokatif berkenaan dengan maka kata dalam kaitannya dengan makna kata lain yang mempunyai tempat yang sama dalam sebuah frasa. Contoh kataindah, cantik, dan tampan memiliki arti yang hampir sama. Namun kata-kata tersebut digunakan dalam situasi, kondisi, dan tempat yang berbeda.
e.       Ada tidaknya ketepatan makna kata dalam penggunaannya secara umum dan khusus
Berdasarkan ada tidaknya ketepatan makna kata dalam penggunaannya secara umum dan khusus, makna kata dan makna istilah. Makna kata merupakan makna yang bersifat umum. Contoh kata bajak, akomodasi, dan lain-lain.
Makna istilah adalah makna yang pasti, jelas, tidak meraguvan meskipun tanpa konteks kalimat. Makna ini digunakan khusus dalam bidang tertentu. Sehingga memiliki makna yang tepat dan pasti. Contoh kata “akomodasi” dalam bidang pariwisata bermakna “hal-hal yang berkenaan dengan fasilitas” sedangkan dalam bidang optik bermakna “penyesuaian lensa”. 
f.       Makna Idiomatika dan Peribahasa
Merupakan makna kata atau sekelompok kata yang tidak dapat diramalkan atau menyimpang dari makna referensial atau gramatikal unsur-unsur pembentuknya. Contoh: bagai air di daun talas.
g.      Makna kias
Makna kias adalah makna kata yang membandingkan kata dengan hal yang lainnya.

Sabtu, 11 Juli 2020

ULASAN FILM BIDADARI-BIDADARI SURGA



Sabar dan Iklas Ala “Bidadari-Bidadari Surga”

Ikanuri dan Wibisana tersesat dalam hutan saat hari sudah malam. Keduanya ketakutan luar biasa ketika di hadapan mereka berdiri harimau Gunung Kendeng hanya sejarak satu terkaman. Laisa dan Dali datang tepat pada waktunya. Menggenggam obor di tangan kiri dan parang di tangan kanan, Laisa langsung mengambil tempat paling depan, menjadi tameng hidup bagi adik-adiknya.
Mata Laisa menatap mata harimau. Keduanya seperti tengah berkomunikasi. Tak lama, harimau itu mengendur, mundur beberapa langkah, lalu balik badan kembali ke dalam hutan. Laisa (Nirina Zubir) adalah sulung lima bersaudara. Empat adiknya adalah Dalimunte (Rizky Julio dan Nino Fernandez), Ikanuri (Michael Adam dan Adam Zidni), Wibisana (Saddam Basalamah dan Frans Nicholas), serta Yashinta (Chantiq Schagerl dan Nadine Chandrawinata).
Dalam Film Bidadari-bidadari Surga mereka berlima dan Mamak Lainuri (Henidar Amroe) yang seorang janda, hidup di rumah kayu di tengah ladang Lembah Lahambay. Setiap hari mereka bekerja keras menyadap karet, mengambil kayu, dan menganyam topi pesanan. Laisa tidak bersekolah karena Mamak dulu tak sanggup menyekolahkannya.
Laisa sangat keras kepada adika-diknya agar rajin sekolah. Dia ikut mengantarkan mereka ke tepi jalan kampung hingga mendapatkan mobil tumpangan ke sekolah. Sebaliknya, dia tak segan-segan menghukum jika salah satunya bolos.
Penampilan fisik Laisa berbeda dibanding adik-adiknya. Adik-adiknya berkulit terang, berbadan langsing, berwajah tirus, dan berhidung mancung. Sementara, Laisa pendek kekar, agak bungkuk, berjalan timpang, pesek, berambut keriting kusut, dan berkulit gelap. Kalau lima bersaudara sedang jalan bersama, penampakan Laisa kerap jadi gunjingan orang kampung. Satu persamaan dari keluarga ini adalah sama-sama pekerja keras dan ingin hidup sukses. Laisa adalah kakak yang paling berjasa dikeluarga tersebut. 
Tidak hanya Laisa yang berbeda, keseluruhan film ini juga berbeda. Sebab sutradara menggunakan 10 menit animasi buatan tim Animasi Baros sebagai pembuka. Animasi ini menjadi appetizer yang pas bagi pentonton, lantaran setelahnya satu-persatu penonton akan disuguhkan adegan penuh haru. Bahkan Nirina Zubir yang berperan ‘khusus’ sebagai Laisa tidak berhenti meneteskan air mata.
Di tengah-tegah kehidup sehari-hari yang keras, Laisa mendapat inspirasi baru dari hadirnya mahasiswa KKN ke kampung mereka. Dia ingin menanam strawberry karena harga jualnya mahal di kota. Penanaman pertama gagal, namun setelah evaluasi serta perbaikan di sana-sini, strawberry Laisa berhasil tumbuh subur dan berbuah besar-besar juga manis. Laisa pun menyulap ladang mereka jadi kebun strawberry dan            menamakannya Rose Berry Farm.     
Hari berganti, satu per satu anak-anak beranjak dewasa. Satu per satu pula adiknya bertemu dengan pasangan yang cocok. Meski awalnya berat memutuskan untuk menikah karena harus melangkahi Laisa, yang artinya menyakiti hati kakak tercintanya, namun justru Laisa-lah yang jadi pendorong agar mereka menikah.
Sementara Laisa sendiri belum mendapatkan jodoh. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia yaitu selalu rusuh bertanya tentang pernikahan. Hal ini juga dilakukan oleh ibu ibu di kampong Laisa yang selalu bertanya kapan laisa menikah, Laisa sadar diri , dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna akan membuat dia sulit untuk menemukan cinta sejatinya sementara di zaman ini kecantikan fisik adalah segalanya.
Berkali-kali Dali memperkenalkan Laisa dengan laki-laki yang serius, tak juga membuahkan hasil. Mereka langsung pamit mundur begitu melihat wajahnya. Ustad Safri (Billy Boedjanger) yang seorang duda, yang isi ceramahnya “Tidak penting wajah cantik, yang penting kaya hati,” bahkan refleks berucap “Astaghfirullah!” begitu Laisa menoleh.
Hingga suatu ketika Laisa diperkenalkan dengan kawan Dali, Dharma (Rizky Hanggono) yang sedang mencari istri. Dharma sudah beristri, Andini (Astri Nurdin), tapi istrinya divonis dokter tidak bisa punya keturunan. Andinilah yang mendesak Dharma agar mencari istri muda agar dikaruniai anak kandung.
Film Bidadari-bidadari Surga diangkat dari novel berjudul sama (terbit 2008) karya Tere-Liye. Nirina Zubir berakting total sebagai Laisa. Kita bisa menangkap semangatnya serta kasih sayang kepada adik-adiknya. Dipilihnya Nirina sebagai Laisa adalah tindakan tepat. Nirina yang sableng hilang sama sekali di sini.
Dia juga didandani habis-habisan sampai-sampai sulit dikenali. Dengan wajah dihitamkan, gigi depan hitam, baju yang out-of date, dan wig keriting mana tahan, Laisa tampil benar-benar utuh, tanpa ada rasa Nirina. Apalagi inilah penampilan Nirina yang paling gemuk, sesuai tuntutan skenario.
Namun, penggambaran latar dalam film ini kurang jelas. Yang dimaksud Gunung Kendeng sebagai latar tempat dalam film tersebut, entah Gunung Kendeng di Jawa Tengah bagian utara atau yang di Lebak, Banten, tidak jelas.Sementara, dalam salah satu adegan, latar belakang musiknya saluang yang khas Sumatera Barat. Mamak Lainuri juga berbaju kurung. Dan penyebutan “mamak” untuk memanggil seorang ibu merupakan khas Sumatera Utara. Begitupun dengan logat Mamak Lainuri dan Laisa memang sedikit beraroma Sumatera.
Jika diteliti, detail Film Bidadari-bidadari Surga ini juga kurang cermat. Misalnya lampu teplok menyala di dalam rumah tapi di sekelilingnya terang seperti diterangi lampu pijar. Ini jadi kecerobohan khas yang terus berulang di film-film Indonesia. Contoh lain, jika dikira-kira, Laisa dan saudara-saudaranya mengalami masa kecil pada era 1970-an. Tapi Ikanuri dan Wibisana pergi mencuri mangga membawa tas keresek. Padahal di masa itu, keresek belum umum digunakan. Apalagi di pedalaman.
Mamak Lainuri pun terlalu modis sebagai janda miskin dengan kehidupan keras di tengah ladang. Tampilan Siapa sebenarnya Laisa juga tidak dijelaskan di film Film Bidadari-bidadari Surga. Dia dibiarkan hanya merana sepanjang hidup. Pasalnya di bagian awal Film Bidadari-bidadari Surga, ketika Laisa hendak menghukum bocah Ikanuri dan Wibisana yang mencuri mangga di kebun orang lain, Ikanuri mengelak. “Kau tak berhak menghukum kami! Kau bukan kakak kami. Kami putih, kau hitam, rambutmu gimbal. Kau bukan kakak kami!” Ucapan ini sangat melukai Laisa.Dia terdiam mendadak dan air matanya turun deras. Tidak ada cerita Film Bidadari-bidadari Surga dari orang dewasa (misalnya dari Mamak Lainuri) yang menguatkan posisi Laisa di keluarga, mengapa dia seperti datang dari planet lain jika dibandingkan dengan adik-adiknya. 
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa cerita ini sederhana tetapi sangat mengandung makna. Banyak pula pesan yang dapat kita tarik dalam cerita ini. Seperti pentingnya sebuah keluarga, sikap Laisa  yang selalu mencintai adik-adiknya, rela berkorban, dan seorang kakak yang demi adik-adiknya berjuang hingga titik darah penghabisan.
 

Struktur teks ulasan film/drama di atas
Struktur Teks
Paragraf
Orientasi 1
Ikanuri dan Wibisana tersesat dalam hutan saat hari sudah malam. Keduanya ketakutan luar biasa ketika di hadapan mereka berdiri harimau Gunung Kendeng hanya sejarak satu terkaman. Laisa dan Dali datang tepat pada waktunya. Menggenggam obor di tangan kiri dan parang di tangan kanan, Laisa langsung mengambil tempat paling depan, menjadi tameng hidup bagi adik-adiknya.
Orientasi 2
Mata Laisa menatap mata harimau. Keduanya seperti tengah berkomunikasi. Tak lama, harimau itu mengendur, mundur beberapa langkah, lalu balik badan kembali ke dalam hutan. Laisa (Nirina Zubir) adalah sulung lima bersaudara. Empat adiknya adalah Dalimunte (Rizky Julio dan Nino Fernandez), Ikanuri (Michael Adam dan Adam Zidni), Wibisana (Saddam Basalamah dan Frans Nicholas), serta Yashinta (Chantiq Schagerl dan Nadine Chandrawinata).
Tafsiran 1
Dalam Film Bidadari-bidadari Surga mereka berlima dan Mamak Lainuri (Henidar Amroe) yang seorang janda, hidup di rumah kayu di tengah ladang Lembah Lahambay. Setiap hari mereka bekerja keras menyadap karet, mengambil kayu, dan menganyam topi pesanan. Laisa tidak bersekolah karena Mamak dulu tak sanggup menyekolahkannya.
Tafsiran 2
Laisa sangat keras kepada adik-adiknya agar rajin sekolah. Dia ikut mengantarkan mereka ke tepi jalan kampung hingga mendapatkan mobil tumpangan ke sekolah. Sebaliknya, dia tak segan-segan menghukum jika salah satunya bolos.
Tafsiran 3
Penampilan fisik Laisa berbeda dibanding adik-adiknya. Adik-adiknya berkulit terang, berbadan langsing, berwajah tirus, dan berhidung mancung. Sementara, Laisa pendek kekar, agak bungkuk, berjalan timpang, pesek, berambut keriting kusut, dan berkulit gelap. Kalau lima bersaudara sedang jalan bersama, penampakan Laisa kerap jadi gunjingan orang kampung. Satu persamaan dari keluarga ini adalah sama-sama pekerja keras dan ingin hidup sukses. Laisa adalah kakak yang paling berjasa dikeluarga tersebut. 
Tafsiran 4
Tidak hanya Laisa yang berbeda, keseluruhan film ini juga berbeda. Sebab sutradara menggunakan 10 menit animasi buatan tim Animasi Baros sebagai pembuka. Animasi ini menjadi appetizer yang pas bagi pentonton, lantaran setelahnya satu-persatu penonton akan disuguhkan adegan penuh haru. Bahkan Nirina Zubir yang berperan ‘khusus’ sebagai Laisa tidak berhenti meneteskan air mata.
Tafsiran 5
Di tengah-tegah kehidup sehari-hari yang keras, Laisa mendapat inspirasi baru dari hadirnya mahasiswa KKN ke kampung mereka. Dia ingin menanam strawberry karena harga jualnya mahal di kota. Penanaman pertama gagal, namun setelah evaluasi serta perbaikan di sana-sini, strawberry Laisa berhasil tumbuh subur dan berbuah besar-besar juga manis. Laisa pun menyulap ladang mereka jadi kebun strawberry dan menamakannya Rose Berry Farm.
Tafsiran 6
Hari berganti, satu per satu anak-anak beranjak dewasa. Satu per satu pula adiknya bertemu dengan pasangan yang cocok. Meski awalnya berat memutuskan untuk menikah karena harus melangkahi Laisa, yang artinya menyakiti hati kakak tercintanya, namun justru Laisa-lah yang jadi pendorong agar mereka menikah.
Tafsiran 7
Sementara Laisa sendiri belum mendapatkan jodoh. Salah satu kebiasaan masyarakat Indonesia yaitu selalu rusuh bertanya tentang pernikahan. Hal ini juga dilakukan oleh ibu ibu di kampong Laisa yang selalu bertanya kapan laisa menikah, Laisa sadar diri , dengan kondisi fisiknya yang tidak sempurna akan membuat dia sulit untuk menemukan cinta sejatinya sementara di zaman ini kecantikan fisik adalah segalanya.
Tafsiran 8
Berkali-kali Dali memperkenalkan Laisa dengan laki-laki yang serius, tak juga membuahkan hasil. Mereka langsung pamit mundur begitu melihat wajahnya. Ustad Safri (Billy Boedjanger) yang seorang duda, yang isi ceramahnya “Tidak penting wajah cantik, yang penting kaya hati,” bahkan refleks berucap “Astaghfirullah!” begitu Laisa menoleh.
Tafsiran 9
Film Bidadari-bidadari Surga diangkat dari novel berjudul sama (terbit 2008) karya Tere-Liye. Nirina Zubir berakting total sebagai Laisa. Kita bisa menangkap semangatnya serta kasih sayang kepada adik-adiknya. Dipilihnya Nirina sebagai Laisa adalah tindakan tepat. Nirina yang sableng hilang sama sekali di sini.
Tafsiran 10
Dia juga didandani habis-habisan sampai-sampai sulit dikenali. Dengan wajah dihitamkan, gigi depan hitam, baju yang out-of date, dan wig keriting mana tahan, Laisa tampil benar-benar utuh, tanpa ada rasa Nirina. Apalagi inilah penampilan Nirina yang paling gemuk, sesuai tuntutan skenario.
Evaluasi 1
Namun, penggambaran latar dalam film ini kurang jelas. Yang dimaksud Gunung Kendeng sebagai latar tempat dalam film tersebut, entah Gunung Kendeng di Jawa Tengah bagian utara atau yang di Lebak, Banten, tidak jelas.Sementara, dalam salah satu adegan, latar belakang musiknya saluang yang khas Sumatera Barat. Mamak Lainuri juga berbaju kurung. Dan penyebutan “mamak” untuk memanggil seorang ibu merupakan khas Sumatera Utara. Begitupun dengan logat Mamak Lainuri dan Laisa memang sedikit beraroma Sumatera.
Evaluasi 2
Jika diteliti, detail Film Bidadari-bidadari Surga ini juga kurang cermat. Misalnya lampu teplok menyala di dalam rumah tapi di sekelilingnya terang seperti diterangi lampu pijar. Ini jadi kecerobohan khas yang terus berulang di film-film Indonesia. Contoh lain, jika dikira-kira, Laisa dan saudara-saudaranya mengalami masa kecil pada era 1970-an. Tapi Ikanuri dan Wibisana pergi mencuri mangga membawa tas keresek. Padahal di masa itu, keresek belum umum digunakan. Apalagi di pedalaman.
Evaluasi 3
Mamak Lainuri pun terlalu modis sebagai janda miskin dengan kehidupan keras di tengah ladang. Tampilan Siapa sebenarnya Laisa juga tidak dijelaskan di film Film Bidadari-bidadari Surga. Dia dibiarkan hanya merana sepanjang hidup. Pasalnya di bagian awal Film Bidadari-bidadari Surga, ketika Laisa hendak menghukum bocah Ikanuri dan Wibisana yang mencuri mangga di kebun orang lain, Ikanuri mengelak. “Kau tak berhak menghukum kami! Kau bukan kakak kami. Kami putih, kau hitam, rambutmu gimbal. Kau bukan kakak kami!” Ucapan ini sangat melukai Laisa.Dia terdiam mendadak dan air matanya turun. Tidak ada cerita Film Bidadari-bidadari Surga dari orang dewasa (misalnya dari Mamak Lainuri) yang menguatkan posisi Laisa di keluarga, mengapa dia seperti datang dari planet lain jika dibandingkan dengan adik-adiknya. 
Rangkuman
Dari paparan di atas dapat disimpulkan bahwa cerita ini sederhana tetapi sangat mengandung makna. Banyak pula pesan yang dapat kita tarik dalam cerita ini. Seperti pentingnya sebuah keluarga, sikap Laisa  yang selalu mencintai adik-adiknya, rela berkorban, dan seorang kakak yang demi adik-adiknya berjuang hingga titik darah penghabisan.


3. Analisis kaidah kebahasaan dari teks ulasan tersebut, dilihat dari istilah, kata asing, kata dasar, verba, dan nomina
     A. Istilah kata asing dalam teks ulasan tersebut
No.
Istilah
Arti
1.
Bidadari
Makhluk berwujud manusia berjenis kelamin wanita yang tinggal di Khayangan atau Surga
2.
Mamak
untuk memanggil seorang ibu khas Sumatra Utara
3.
Lembah
Wilayah bentang alam yang dikelilingi oleh pegunungan atau perbukitan yang luasnya dari beberapa kilometer persegi sampai ribuan kilometer persegi
4.
Fisik
Jasmani, badan
5.
Animasi
Gambar bergerak yang berbentuk sekumpulan objek(gambar) yang disusun secara beraturan mengikui alur pergerakan yang telah ditentukan pada setiappertambahan hitungan waktu yang terjadi
6.
Inspirasi
Kondisi yang secara istimewa mendatangkan berbagai bentuk kegiatan kreatif manusia
7.
Evaluasi
Penilaian
8.
Reflek
Gerakan otomatis dan tidak direncanakan terhadap rangsangan dari luar yang diberikan suatu organ atau bagian tubuh yang terkena
9.
Terbit
Keluar untu diedarkan
10.
Sableng
Agak gila, kurang waras
11.
Skenario
Urutan cerita yang disusun oleh seseorang agar suatu cerita terjadi ssuai dengan yang diinginkan
12.
Sutradara
Orang yang memberi pengarahan dan bertanggung jawab atas masalah artistik dan teknis dalam pementasan drama, pembuatan film, dan sebagainya 
13.
Latar
Keterangan mengenai waktu, tempat, suasana terjadinya lakuan dalam karya sastra
14.
Logat
Cara pengucapan kata (aksen) atau lekuk lidah yang khas, yang dimiliki oleh masing-masing orang sesuai dengan asal daerah ataupun suku bangsa
15.
Modis
Yang mengikuti mode, berpakaian dengan mode yangpaling baru
16.
Planet
Benda langit (seperti Mars, Venus) yang tidak mengeluarkan panas ataupun cahaya dan bergerak mengelilingi matahari secara tetap

B. Kata Asin
No.
Istilah Asing
Makna
1.
appetizer 
Pembuka
2.
Rose
Bunga Mawar
3.
Berry
Buah prambus dan arbei
4.
Farm
Kebun, perkebunan
5.
Astaghfirullah
Kalimat permohonan maaf kepada Allah
6.
out-of date
Ketinggalan zaman
7.
Wig
Rambut palsu




C.  kata dasar, verba, dan nomina
Kata Dasar
Verba
Nomina
Ulas
Mengulas
Ulasan
Nilai
Menilai
Penilaian
Evaluasi
Mengevaluasi
Pengevaluasian
Kritik
Mengkritik
Kritikan
Ukur
Mengukur
Ukuran
Komentar
Mengomentari
Pengomentaran
Tafsir
Menafsirkan
Tafsiran
Kupas
Mengupas
Kupasan

.